Ayah saya tiba- tiba meninggal dunia di usia yang masih bisa dikatakan muda seperti itulah yang kami ucapkan, 50 tahun usianya.
Duka itu menyambar kami dengan mengejutkan, Ayah saya meninggal di rumah sakit SI MADU MOGA jam 12 malam malam hari Rabu, 15 Januari 2014, dengan isak tangis kesedihan. Hampir tidak percaya,
Duka itu menyambar kami dengan mengejutkan, Ayah saya meninggal di rumah sakit SI MADU MOGA jam 12 malam malam hari Rabu, 15 Januari 2014, dengan isak tangis kesedihan. Hampir tidak percaya,
Di ranjang rumah sakit terbaring jasad Ayah saya. Ibu saya menangis di
kaki ranjang dan Bibi (Adik saudara kandung Ayah) tergeletak pingsan di lantai rumah sakit. Bekas
kunjungan malaikat maut seakan jelas terasa menguap diantara hela nafas
yang memenuhi ruangan rumah sakit. Berita kematian ini sungguh tidak
siap kami terima. Saya hanya bisa terdiam lama. Seakan tidak terima apa
yang sedang kami hadapi saat ini.
Ketika salah satu keluarga atau orang yang kita kenal tiba – tiba
meninggal dunia, di saat itu juga kita sadar bahwa kematian itu sangat
dekat. Sebelumnya, saya selalu menganggap kematian itu sebagai suatu hal
yang jauh dari kita. Saya selalu berpikir, “Saya masih muda, saya tidak
mungkin meninggal cepat. Orang jarang ada meninggal di usia semuda
saya. Saya pasti akan meninggal karena tua.”
Sekarang, kematian Ayah saya ini seperti semacam tamparan yang
menyadarkan saya. Membawa kepada kenyataan bahwa ; “Selanjutnya bisa
saja giliran kita”.
Ketika disemayamkan di rumah duka, banyak sanak saudara, teman-temannya yang hadir.
Di antara teman-temannya yang datang, ada yang tidak saya kenal. Ada
juga yang saya tahu merupakan teman dekatnya. Tapi yang jelas punya satu
kesamaan, mereka ingin bertemu untuk yang terakhir kali. Mereka
sepertinya sangat sayang dengan Ayah saya.
Diantara pelayat yang berdatangan, ada yang berbisik-bisik, “Sayang ya, padahal masih muda.” Ada juga yang bilang, “Dia benar-benar salah seorang teman terbaik”.
Diantara pelayat yang berdatangan, ada yang berbisik-bisik, “Sayang ya, padahal masih muda.” Ada juga yang bilang, “Dia benar-benar salah seorang teman terbaik”.
Saya sendiri mengakui, Ayah saya yang satu ini mempunyai kelebihan,
dia sangat peduli dan ramah kepada orang lain. Dia tak segan menyapa dan
melayani obrolan orang yang lebih tua, Dan kini, saya hanya bisa
memandangnya di pembaringan, seperti tertidur. Seperti tersenyum damai.
Tiba tiba saya merenungkan, “bagaimana ya pemakaman saya nanti?”. Apa
banyak yang datang? Apa “ada” yang datang? Apa yang akan mereka katakan
tentang saya? Apa kenangan yang akan mereka ingat tentang saya? Apakah
ada yang rela nantinya susah-susah datang, untuk melihat saya untuk
terakhir kali dan menghibur keluarga saya dengan membicarakan dan
menceritakan kebaikan yang telah saya lakukan selama hidup?
Kadang kita merasa bahwa kematian adalah hal yang tabu untuk
dibicarakan. Sesuatu yang “sepertinya ada” tapi selalu kita sangkal
keberadaannya. Iya, hidup kita penuh dengan penyangkalan-penyangkalan
akan datangnya kematian.
Kematian, sebuah kepastian bagi kita yang hidup
Kita hidup di dunia ini seolah-olah kematian itu tidak ada. Kita sibuk melakukan apapun dan memenuhi segala keinginan dan hasrat duniawi. Kemudian Kita lama-lama melupakan mati. Kita menjadi terlalu sibuk. Entah apakah kita berusaha untuk menyibukkan diri supaya tidak mengingat kematian atau kita betul-betul lupa bahwa Malaikat Maut melangkah mendekati kita semakin dekat setiap detiknya.
Kita hidup di dunia ini seolah-olah kematian itu tidak ada. Kita sibuk melakukan apapun dan memenuhi segala keinginan dan hasrat duniawi. Kemudian Kita lama-lama melupakan mati. Kita menjadi terlalu sibuk. Entah apakah kita berusaha untuk menyibukkan diri supaya tidak mengingat kematian atau kita betul-betul lupa bahwa Malaikat Maut melangkah mendekati kita semakin dekat setiap detiknya.
Setiap tarikan napas, adalah satu tarikan napas lagi mendekati
kematian. Kini, saya merasa harus membuat sesuatu yang membuat hidup ini
berharga. Kita dijadikan sebagai Khalifah di muka bumi untuk berbuat
sesuatu. Kita harus membuat hidup lebih berarti, lebih bersyukur dan
berbahagia, lebih banyak mengambil kesempatan. Hidup ini hanya sekali.
Bukankah akan sangat sayang untuk kita buang begitu saja dengan
menghabiskannya tanpa melakukan apa-apa?
Saya teringat sebuah perkataan yang pernah di ucapkan Ayah saya beberapa
waktu sebelum kematian menjemputnya; “Jadikanlah kematian sebagai sebuah
pelajaran, agar kita dapat melihat bahwa hidup itu sangat berharga
untuk disia-siakan”
Mungkin memang kematian bukanlah hal yang nyaman untuk
diperbincangkan. Tapi ada baiknya bila kita sejenak merenungi bahwa suka
atau tidak suka, kita akan bertemu dengan kematian.
Kematian adalah pintu menuju kehidupan abadi.
Kematian adalah pintu menuju kehidupan abadi.
Dan semoga dalam kehidupan abadi itu kita akan menemukan kebahagiaan.
Tempat dimana kita duduk tersenyum melihat apa saja kebaikan yang telah
kita ukir selama kesempatan hidup yang diberikan.
Bahagia yang sejati.... by Admin / TZ
Bahagia yang sejati.... by Admin / TZ
0 Response to ""Ayahku tercinta" Ketika Kematian Itu Tiba Menyapa"
Post a Comment